Muharoman dan Pesta Durian
Oleh: Amam Fakhrur
Muharoman berarti berbagai kegiatan dalam rangka memperingati datangnya bulan Muharram, bulan yang menandai pergantian Tahun Baru Hijriah atau Tahun Baru Islam.
Bagi sebagian masyarakat Indonesia, datangnya bulan Muharram tidak hanya dimaknai sebagai pergantian tahun dalam kalender Hijriah, tetapi juga menjadi momentum untuk memperkuat spiritualitas, mempererat persaudaraan, dan mensyukuri nikmat Allah SWT.
Muharoman telah menjadi tradisi yang berkembang di berbagai daerah di Indonesia. Tentu saja, pelaksanaannya memiliki ragam cara dan corak budaya sesuai dengan kearifan lokal masing-masing. Di banyak tempat, Muharoman dipadukan dengan tradisi masyarakat sebagai bentuk ekspresi budaya yang tidak bertentangan dengan nilai-nilai agama.
Di lingkungan tempat saya bekerja, tahun ini juga diselenggarakan peringatan Muharoman 1448 H. Acara berlangsung di aula pada 24 Juni 2026. Karpet digelar memenuhi ruangan. Para karyawan hadir mengenakan busana muslim yang didominasi warna putih. Mereka duduk bersila mengikuti seluruh rangkaian acara dengan khidmat.
Lantunan ayat suci Al-Qur'an membuka kegiatan. Seorang ustaz lulusan Al-Azhar, Mesir, dihadirkan untuk menyampaikan tausiah. Acara juga diisi dengan santunan kepada sejumlah anak yatim sebagai wujud kepedulian sosial.
Suasana semakin syahdu ketika salah seorang rekan kerja menyanyikan lagu nasyid. Saya sendiri bersama beberapa rekan turut membawakan lagu "Bismillah", karya grup kasidah Nasida Ria yang populer pada era 1970-an. Lagu yang kini tergolong jadul itu tetap terasa indah dan penuh makna. Saya tampil dengan sedikit rasa malu-malu. Semoga tidak sampai malu-maluin. Acara kemudian ditutup dengan doa bersama, dilanjutkan makan siang bersama dalam suasana penuh keakraban.
Sekitar sepekan kemudian, kami kembali berkumpul dalam acara makan durian bersama. Tidak berlebihan jika disebut sebagai pesta durian. Durian yang dibeli bahkan mencapai satu mobil pikap penuh. Biayanya dikumpulkan secara gotong royong oleh para karyawan.
Hampir semua rekan menyantap durian dengan penuh semangat. Ada pula beberapa orang yang memilih mengerem, hanya menikmati beberapa ulas karena khawatir tekanan darah maupun kadar gula meningkat. Maklum, durian memiliki rasa yang sangat manis dan kandungan kalori yang cukup tinggi.
Memang sedang musim durian di Pangkalpinang dan sekitarnya. Hasil panennya melimpah sehingga harga menjadi relatif murah. Kondisi inilah yang membuat pesta durian menjadi sesuatu yang sangat wajar.
Mungkin di beberapa daerah yang juga sedang panen raya durian, peringatan Muharoman dapat dirangkaikan dengan pesta durian. Setelah acara keagamaan selesai, masyarakat berkumpul menikmati hasil panen bersama. Orang tua, pemuda, hingga anak-anak duduk bersama dalam suasana akrab dan penuh kekeluargaan.
Di tempat saya bekerja, kedua kegiatan tersebut tidak menjadi satu rangkaian. Waktu maupun kemasannya berbeda. Namun kebetulan, musim durian hampir selalu hadir bertepatan dengan bulan Muharram. Musim yang melimpah seperti ini pun hanya datang setahun sekali.
Sekilas, Muharoman dan pesta durian tampak sebagai dua hal yang berbeda. Muharoman bernuansa religius, sedangkan pesta durian merupakan perayaan atas hasil panen. Namun, keduanya dapat bertemu dalam satu makna, yakni sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT atas limpahan rahmat-Nya.
Bulan Muharram mengajarkan manusia untuk melakukan introspeksi diri, memperbanyak amal saleh, mempererat silaturahmi, serta berbagi kepada sesama. Di sisi lain, pesta durian menjadi simbol keberkahan alam yang menghadirkan rezeki bagi para petani dan masyarakat.
Pelaksanaan Muharoman juga memperkuat rasa kebersamaan. Seluruh karyawan mengikuti rangkaian acara tanpa membedakan jabatan, status sosial, maupun jenis pekerjaan. Semua duduk sejajar sebagai sesama hamba Allah.
Sementara itu, pesta durian juga memiliki nilai ekonomi. Para petani memperoleh kesempatan menjual hasil panennya, para pelaku usaha kecil mendapatkan tambahan pendapatan, bahkan suatu daerah dapat semakin dikenal sebagai tujuan wisata budaya maupun wisata kuliner. Dengan demikian, kegiatan sederhana ini ikut menggerakkan roda perekonomian masyarakat.
Meski demikian, esensi Muharoman tidak boleh hilang di balik kemeriahan sebuah perayaan. Setiap kegiatan hendaknya tetap menjaga nilai-nilai Islam, menghindari kemaksiatan, pemborosan, maupun hiburan yang melalaikan.
Pesta durian seharusnya menjadi sarana mempererat ukhuwah, berbagi rezeki, serta menumbuhkan rasa syukur, bukan semata-mata menikmati kelezatan buahnya.
Sesungguhnya, bersyukur tidak harus menunggu datangnya nikmat berupa jabatan, pangkat yang lebih tinggi, ataupun rezeki yang melimpah. Dapat bernapas dengan lega, menikmati makanan dan minuman, serta terbebas dari lapar dan dahaga pun merupakan nikmat yang patut disyukuri. Jika rasa syukur itu kemudian diekspresikan melalui sebuah pesta sederhana, maka hal tersebut hanyalah bentuk ungkapan kegembiraan. Yang terpenting adalah tetap menghadirkan Allah dalam setiap nikmat yang diterima.
Pada akhirnya, Muharoman dan pesta durian menjadi contoh bagaimana agama dan budaya dapat berjalan beriringan di bawah pancaran nilai-nilai ketuhanan, sehingga setiap aktivitas manusia senantiasa berorientasi kepada-Nya.
Pesta, atau apa pun namanya, hendaknya menjadi media untuk mengekspresikan rasa syukur dan mempererat kebersamaan. Selama tradisi tersebut tidak bertentangan dengan ajaran Islam, ia dapat menjadi kekayaan budaya yang memperkuat identitas masyarakat sekaligus mengingatkan bahwa setiap nikmat, termasuk melimpahnya hasil panen durian, merupakan karunia Allah SWT yang patut disyukuri (Pangkalpinang, 4 Juli 2026).
